…
Mengapa Tuhan menciptakan rindu?
Yang membuatku mencari definisi
dari setiap kata yang menguap di udara
Melewati jarak yang membentang
Menyinggahi tempat-tempat yang tak terbayangkan
Bagaimana Tuhan menciptakan rindu?
Ia bukan malaikat
Ia tak datang dari cahaya
Adakah ia hadir dari cinta?
Atau harapan yang tak sempat terucap
Atau warna yang tak sempat terlukiskan
Atau benang kusut yang tak sempat diluruskan
Entah mengapa
Entah bagaimana
Tapi pasti Tuhan tahu
Rindu itu ada. Disini. Dan tak pergi kemana-mana
(Jogja hari ini)
Untitled
Untuk setiap jarak yg kutempuh
Aku tak pernah tahu akankah ada dirimu
Untuk setiap ruang yg kutempati
Tak selalu di salah satu sudutnya ada dirimu
Dan untuk setiap waktu yg terlewati
Aku tak bisa berharap selalu ada dirimu
Sejauh apapun, seluas apapun, selama apapun…
Semoga kita masih menyimpan harapan dan cinta yang sama
Jarak, ruang, dan waktu…
Biarlah kita menghiasinya dengan kesabaran dan untaian doa
Semoga…
Jarak dan waktu takkan lagi memisahkan
Di suatu masa yg tak kutahu kapan
180909
p.s. i love you
I Carry Your Heart with Me
I carry your heart with me (I carry it in my heart)
I am never without it (anywhere i go you go ,my dear;
and whatever is done by only me is your doing, my darling)
I fear no fate (for you are my fate,my sweet)
I want no world (for beautiful you are my world,my true)
and it’s you are whatever a moon has always meant
and whatever a sun will always sing is you
Here is the deepest secret nobody knows
(here is the root of the root and the bud of the bud
and the sky of the sky of a tree called life; which grows
higher than the soul can hope or mind can hide)
and this is the wonder that’s keeping the stars apart…
I carry your heart (I carry it in my heart)
(a poem by E.E. Cunnings. I know this from the movie “In Her Shoes” and I think it’s such a wonderful poem! I really love this!)
WAJAH PEREMPUAN INDONESIA
Aku melihat perempuan Indonesia
Berdiri meminta-minta di jalan-jalan dekat lampu merah
Di atasnya terik matahari sebagai payung
Di dalam gendongannya seorang bocah ingusan tak berdosa
Di sekelilingnya orang-orang memandang acuh, tak suka, curiga, namun ada pula yang iba
Aku melihat perempuan Indonesia
Bekerja di pasar-pasar yang sumpek dan becek
Di sekelilingnya sayur mayur, daging, tahu, tempe, sampai bumbu-bumbu masakan
Di dahinya peluh tercipta, namun ia tetap tekun bekerja
Aku melihat perempuan Indonesia
Yang kuat, enerjik, dan penuh semangat
Berjuang dari lapangan ke lapangan, pertandingan ke pertandingan, negara ke negara
Di pipinya terurai air mata mendengar “Indonesia Raya”
Di dadanya rasa bangga tertanam, bangga akan bangsa
Aku melihat perempuan Indonesia
Wajahnya cerah sepanjang perjalanan menuju sekolah
Di wajahnya terlukis senyuman
Di tangannya tergenggam tas penuh berisi buku-buku pelajaran
Di pundaknya tersimpan tanggung jawab mencerdaskan anak bangsa
Meski hatinya berteriak akan gaji yang tak jua diterimanya selama beberapa bulan
Aku melihat perempuan Indonesia
Yang teguh dalam idealismenya
Menuangkan ide dan pikiran-pikirannya
Membagikan manis dan pahit kisah hidupnya
Mengisi ruang-ruang kosong lewat kata
Menghadirkan inspirasi lewat tulisan-tulisannya
Aku melihat perempuan Indonesia
Yang tegas dan berani mengambil keputusan
Tutur katanya berarti harga diri bangsa
Kebijakannya berarti nasib rakyat
Tanggung jawabnya ialah kesejahteraan masyarakat
Aku melihat perempuan Indonesia
Yang cantik, yang seksi, yang gemerlap
Penuh dinamika kisah hidup yang selalu jadi bahan berita
Ia banyak muncul di televisi, di sana-sini
Namun seakan ia kekurangan ruang pribadi dalam hidupnya tuk sekedar bernapas dan merenung
Aku melihat perempuan Indonesia
Di sini, di sana
Menjelma dalam berbagai sosok berbeda
Membawa impian dan cita-cita
Bergerak dengan bebas tanpa tembok-tembok penghalang yang dikisahkan Kartini pada masanya
Aku melihat diriku
Aku melihat perempuan Indonesia
Yogyakarta, 21 April 2009
Arus Mundur
sambil menatap layar segi empat
aku terseret arus denting piano
lembut, meneduhkan, sekaligus memilukan
potret-potret masa lalu berhamburan
semua yang pernah terekam kini tak lagi nyata
tawa itu…tawa yang tergambar di wajah mereka
inginku merasakannya lagi
tawa yang temani bunga-bunga musim semiku
tawa yang sejukkan musim panasku
tawa yang sempurnakan indah warna musim gugurku
tawa yang menghangatkan putihnya salju pertamaku
Yogyakarta, 080309
merindukan semua tentang korea
Untitled
Di matamu kulihat dunia
Manis dan pahit realita
Di matamu kulihat sebersit sepi
yang membuatku senantiasa menyukuri hari
Kamu kamu dan kamu
Semua
Menyimpan masa depan yang masih misteri
Juga harap yang takkan pernah berhenti
Semoga tangan-tangan ini pun takkan lelah
Tuk menggapai
Tuk berbagi kasih
Di sini…
Yogyakarta, 19 Februari 2009
Untuk cinta di “Sayap Ibu”
Kita
Tak ada yang lain, yang kutemukan hanya cinta dan pengorbanan
Kau telah benar-benar menyusurinya, namun terkadang aku tak mengerti
Kita tak selalu sepaham
Bahasamu tak selalu bahasaku
Maknaku tak selalu maknamu
Perjalanan panjang ini pernah menggores luka dan menumpahkan air mata
Namun jangan sampai kita berhenti belajar tuk saling memahami
Menerjemahkan cinta…
yang telah, dan akan selalu di hati
Jogja, 17 Desember 2008
*buat mama
Cintamu Selalu
Selalu
Cintamu melingkari hari-hariku
Di sini, di sana…
Dekat, jauh…
Selalu
Engkau bergiat dengan segala peluh
Sedari pagi, sewaktu aku masih terlelap
Kau tak selalu bisa terjemahkan kasihmu lewat kata
Juga tak selalu bisa tunjukkan sayangmu lewat belaian
Cukuplah kedewasaanku yang mengartikan seluruh pengorbananmu
Dan cinta yang takkan surut oleh waktu
Selalu
Aku merindukanmu
Dalam doa-doa yang terbang ke langit
Dalam doa-doa yang diamini malaikat
Surga…semoga di telapak kakimu
*buat Mama yang selalu menjagaku, dan akan selalu begitu…
Bekasi, 5 Desember 2008
PAGI DI TANAH PARA NABI
Matahari yang menyapa dari timur
Adalah sebuah awal yang selalu terulang
Setiap pagi, setiap hari
Dan pada saat itu pula cerita perjuangan selalu dimulai
Aku menatap dari balik jendela sebuah bangunan yang dulu adalah rumah
Namun kini hanya menyisakan bentuk yang tak utuh
Aku menatap keluar, ke tanah yang dipenuhi puing-puing sisa kehidupan
Yang tak pernah menyurutkan asa tuk menghidupkannya lagi di masa depan
Aku menatap dari balik jendela sebuah bangunan yang dulu adalah rumah
Di luar sana, tanah lapang tak lagi dipenuhi anak-anak kecil sebaya
Kecuali anak-anak yang berlarian ketika dentum senjata merajalela
Di sana legam, tak dihiasi canda tawa
Aku menatap dari balik jendela sebuah bangunan yang dulu adalah rumah
Tak ada anak-anak riang berangkat ke sekolah
Yang ada adalah anak-anak yang mencoba bertahan
Untuk sekedar makan dan mengumpulkan tenaga tuk lakukan perjuangan
Tanah tempatku bersujud adalah harapan
Tembok tempatku bersandar adalah kekuatan
Dan senyum ayah bunda yang tlah tiada adalah doa
“Ya Allah…beri kami kesabaran tuk perjuangkan tanah kami, tanah para nabi…”
Yogyakarta, September 2008
Bantu Palestina dengan 4D:
Dakwah
Demonstrasi
Dana
Doa
Semua adalah pilihan kita. Sejauh mana kita peduli?
DI SUATU SORE
(1)
Aku duduk sendiri di sini
Hanya untuk menikmati jus kesukaan: sirsak
Kental, manis, segar, dan cita rasanya yang khas
Komposisi sempurna, meski hidup tak selalu serupa itu
Aku duduk sendiri di sini
Hanya untuk menikmati jus sirsak
Sambil menyegarkan pikiran sebelum ujian
Juga semrawutnya perasaan
(2)
Aku duduk sendiri, dengan jus sirsak di hadapan
Mencoba menguraikan senyawa-senyawa kata
Mecoba memberikan makna
Untuk suatu bahasa kasih yang kadang terasa menyakitkan
Tuhan, aku lelah hidup dalam ekspektasi manusia-manusia itu,
Yang bagi mereka begitu agung, suci, dan tinggi
Aku selalu jujur kepada-Mu, namun mereka tak mengerti
181008
Seperti ini…
Sedari dulu aku begini…
Desember 16, 2009
September 18, 2009
Juli 11, 2009