7 Minggu untuk Selamanya

 

Aku berlabuh di sebuah titik bernama jeda

Setelah hari demi hari terasa begitu cepat

Setelah ilmu demi ilmu merasuki kepala seperti kilat

 

Aku berhenti dan berkenalan dengan jeda

Dalam jeda ini aku melihat mata-mata yang telah biasa menyinari hariku

Dalam jeda ini aku mendengar hembusan napas yang telah biasa temani diam dan gerakku

Dalam jeda ini aku merasakan hangat yang biasa mengobati dinginku

 

Namun jeda takkan lama

Kita harus cepat bergerak

Kita takkan lagi berdebat soal kebobrokan

Tapi kita akan bertindak nyata

Mengawali seribu langkah besar dengan sebuah langkah kecil yang bermakna

 

Jeda yang hanya sejenak ini biar menjadi saksi

Bahwa hari-hari kemarin kita pernah tidak tahu

Dan bahwa hari-hari kemarin kita berusaha dan belajar untuk menjadi lebih mengerti

 

Jeda yang hanya sejenak ini biar menjadi saksi

Bahwa kita pernah tertawa dan pernah pula berduka

Bahwa kita pernah jatuh dan kita berusaha untuk bangkit kembali

 

Jeda yang akan segera usai ini biar menjadi pengingat

Bahwa kita tidak berjalan sendiri

Bahwa di seberang lautan sana, sahabat-sahabat lainnya memikul amanah yang sama

Dan di sini, ada pula banyak sosok mulia yang tetap tinggal dan setia mendoakan

Dan ada malaikat-malaikat yang mengamini doa indah mereka

 

Jeda

Terima kasih telah temaniku mensyukuri anugerah indah ini

Tujuh minggu ini aku menempa diri

Tujuh minggu ini aku mengenal manusia-manusia yang luar biasa

 

Tujuh minggu ini…

Tujuh minggu untuk selamanya

 

 

Megamendung, 11 Juni 2011

Bersama kenangan di Pelatihan Intensif Pengajar Muda II – Indonesia Mengajar

 

 

Pergi

Untuk hari ini dan selamanya

Aku akan selalu pinjamkan bahu ini

Sebagai tempatmu bersandar

Sebagai tempatmu singgah dari berbagai problema

Untuk meringankan sebagian beban yang ada di dirimu

Untuk hari ini dan selamanya

Telinga ini akan selalu ada

Untuk mendengarkan keluh kesahmu

Untuk menyimak kepingan-kepingan kisah hidupmu

Untuk meringankan sebagian beban yang ada di dirimu

Untuk hari ini dan selamanya

Tangan ini ‘kan siap sedia

Merangkulmu dengan segenap cinta

Agar kau tahu dirimu begitu bermakna

Untuk hari ini dan seterusnya

Aku ingin selalu ada untukmu

Namun…aku sendiri tak yakin

Masihkah esok akan ada untuk kita

Berbagi canda…

Berbagi tawa…

Berbagi cinta…

Untuk hari ini dan seterusnya

Aku ‘kan titipkan salam lewat angin

Aku ‘kan titipkan rindu lewat hujan

Biarkan mereka menyusuri jalan panjang yang memisahkan kita

-Yogyakarta, 6 Agustus 2006-

*nemu puisi ini di blog lama. untuk seorang teman yang (ternyata) tak jadi pergi ;)

Mama

 

Mama…

semoga Allah senantiasa membalas setiap detik yang Mama persembahkan untuk keluarga ini.

Mama…

doa kami hanya doa dari anak-anak biasa,yang terkadang menyakitimu dan tak peka terhadapmu.

Namun semoga doa sederhana ini diamini malaikat dan dibawa terbang ke singgasana-Nya.

Mama…

Kami mencintaimu…

 

Jakarta, 22 Desember 2010

Kesabaran

Kesabaran…

Itulah yang diajarkan bus yang penuh sesak ini

Yang terkadang AC-nya bocor, yang terkadang atapnya pun bocor

Kesabaran…

Itulah yang diajarkan oleh lalu lintas yang padat tak bergerak ini

Lalu lintas yang menunda para pekerja sampai di kantor dan sampai di rumah

Lalu lintas yang menunda berbagai perjumpaan:

Ayah dengan anaknya

Ibu dengan anaknya

Suami dengan istrinya

Seseorang dengan temannya, rekan bisnisnya, dan siapa saja

Lalu lintas yang menunda seseorang bahkan untuk menunaikan kewajiban beribadah

Bertahun-tahun…

Rakyat sudah banyak belajar tentang sabar

Tentang menerima berbagai fasilitas yang alakadarnya

Tentang menerima masalah yang tak juga terpecahkan

Kapankah kiranya para pemimpin akan membayar berjuta kesabaran itu?

Butuh berapa orang gubernur lagi, oh Jakarta?

Hingga Semanggi – Cawang tak perlu ditempuh dalam waktu satu jam

Hingga para pekerja, anak sekolah, dan orang kecil bisa menikmati bahagianya pergi dari suatu tempat ke tempat lain

Bahagianya hidup di ibukota…

Jakarta, 9 Desember 2010

#curhatanakbis

*foto dari Antara

Melaka

Kapalku melaju

Membelah sungai Melaka

Menapaki percik-percik sejarah dan perjalanan peradaban

Rumah-rumah tua, toko-toko, dan gedung tinggi

Sebuah perspektif tentang bergeraknya dunia

Tentang kemajuan yang tak melupakan akarnya

Di telingaku irama musik Melayu berdendang

Di kulitku angin sore Melaka menerpa

Di hatiku perjalanan ini takkan kulupa

Dan aku telah membingkai potret orang-orang yang baru kutemui

yang memberikan kehangatan tanpa terkecuali:

   Orang Melayu, India, China, dan Arab

Tak perlu lagi banyak penjelasan

Kita semua saudara

Melaka, 30 September 2010

Selamat Ulang Tahun

Doaku sepenuh hati

Untuk seorang kekasih hati

Di usiamu kini…berjuta asa menanti

Begitu pula rintangan yang akan datang silih berganti

Doaku..engkau tetap tegar berdiri

Optimis menjalani hari-hari

Jangan pernah doa dan ikhtiarmu terhenti

Kini..hingga nanti..

28 Agustus 2010

(pinjem fotonya ya ciiin ;p)

Cukup

Engkau memang ajaib
Dan aku bersyukur Tuhan memperkenalkanku pada keajaiban itu
Seperti aku juga bersyukur cinta ini telah jatuh kepadamu
yang dalam kesederhanaan ekspresimu, engkau menyimpan kasih sayang yang tulus
yang dalam kesederhanaan katamu, engkau menyimpan cinta dan kesabaran

Apa lagi yang belum kudapatkan?
Aku tak perlu apa yang tak kau miliki
Aku hanya perlu memahamimu, menerima kekuranganmu, mensyukuri semua kebaikan yg ada padamu,
dan mencintaimu dengan tulus, setulus engkau mencintaiku
Hingga cinta ini tak hanya hadir setelah hujan, lalu pergi bersama pelangi
Semoga cinta ini akan selalu hadir dalam setiap jarak dan butiran pasir waktu
Bertualang lewat gelombang suara dan tetap sampai meski sinyal-sinyal emosi sulit diprediksi
Cinta ini akan selalu membawaku padamu, dan engkau padaku

Itu cukup
*catatan malamku. 4 Juli 2010 pada pukul 23.18

Untukmu

Rumah, bandara, stasiun kereta, dan entah dimana lagi
Perjumpaan selalu mempertemukan kita dengan perpisahan
Entah sdh berapa kali

Namun kali ini terasa berat
Aku tak bisa jelaskan mengapa
Biarlah deras hujan yang menjawab
Juga dinginnya angin malam

Bersamamu. Pagi, siang, malam
Satu pekan ini sudah lebih dari indah
Karna kita tahu, waktu tak bisa berlama-lama menemani kebersamaan ini

Satu yang bisa kita petik
Jauhnya jarak membuat kita lebih menghargai
Saat-saat bersama yang hanya datang sesekali
Hari ini, entah esok atau lusa

Semoga kita takkan beranjak pergi untuk cinta yang lain
Tetap menanti hingga cinta ini tak berjarak lagi
Suatu saat nanti

Jogja, 17feb10

rasa

Entah cinta macam apa
Rangkaian huruf, kata, kalimat,
Sampai paragrag-paragraf yang bercerita
Semuanya tentang CINTA

Perjumpaan-perjumpaan lewat layar: besar dan kecil
Perbincangan-perbincangan lewat udara: lama dan singkat
Semuanya tentang RINDU

Kita juga tersenyum dalam bermacam warna
Tertawa dalam simbol-simbol dan goresan tangan kita
Semuanya tentang RASA

Mungkin tak ada yang mengerti
Bahagianya kita dalam perjumpaan-perjumpaan yang sederhana
Dalam perjalanan singkat yang selalu memberi makna
Juga impian tentang pintu kemana saja yang takkan pernah nyata
Yang tahu hanya KITA dan RASA

Yogyakarta, 15 Januari 2010