Aku Bahagia

Aku bahagia begini

Bermain bola di tanah berlumpur

Memanjat pohon mangga dan jambu

Sambil di sela-selanya membaca buku

 

Aku bersandar pada gunung

Aku bersaudara dengan laut

Sahabatku angin, teman bermainku alam

Mimpi kugantungkan di langit

Biar tinggi sungguh

Biar orang mencibir, asa takkan luruh

 

Sekolahku bukan sekolah terbagus sejagad raya

Tapi bapak dan ibu guru berkata itu bukanlah suatu perkara

Aku dan mentari saling berpandang, ia tersenyum meyakinkan

Aku bertanya pada ilalang, iya mengangguk mengiyakan

Sudahlah, aku mau pergi bermain lagi

Sambil kugenggam buku di tangan

Aku akan bertualang membaca alam dan dunia

 

[07022012]

 

*puisi tentang dan untuk murid-muridku tersayang. betapa aku menyayangi mereka :’)

Tiga

Aku marah

Engkau diam

Aku menangis

Engkau datar

Aku ingin bicara

Engkau lelah

 

Engkau diam

Aku bertanya-tanya

Engkau datar

AKu mencari makna

Engkau lelah

Aku ingin jadi tempatmu bersandar

 

Apapun

Manis, pahit, asam

Perjalanan kita bukan sesuatu yang akan membuatku patah arang

 

Bahwa perbedaan selalu ada, itu adalah niscaya

Bahwa kita takkah pernah sempurna, itu yang aku paham

 

Bagaimanapun

Aku ingin takkan lelah memahamimu

Aku ingin harapan ini kurajut bersamamu

Biar marah, biar diam, biar lelah

Kita bersama-sama

 

02022012

 

7 Minggu untuk Selamanya

 

Aku berlabuh di sebuah titik bernama jeda

Setelah hari demi hari terasa begitu cepat

Setelah ilmu demi ilmu merasuki kepala seperti kilat

 

Aku berhenti dan berkenalan dengan jeda

Dalam jeda ini aku melihat mata-mata yang telah biasa menyinari hariku

Dalam jeda ini aku mendengar hembusan napas yang telah biasa temani diam dan gerakku

Dalam jeda ini aku merasakan hangat yang biasa mengobati dinginku

 

Namun jeda takkan lama

Kita harus cepat bergerak

Kita takkan lagi berdebat soal kebobrokan

Tapi kita akan bertindak nyata

Mengawali seribu langkah besar dengan sebuah langkah kecil yang bermakna

 

Jeda yang hanya sejenak ini biar menjadi saksi

Bahwa hari-hari kemarin kita pernah tidak tahu

Dan bahwa hari-hari kemarin kita berusaha dan belajar untuk menjadi lebih mengerti

 

Jeda yang hanya sejenak ini biar menjadi saksi

Bahwa kita pernah tertawa dan pernah pula berduka

Bahwa kita pernah jatuh dan kita berusaha untuk bangkit kembali

 

Jeda yang akan segera usai ini biar menjadi pengingat

Bahwa kita tidak berjalan sendiri

Bahwa di seberang lautan sana, sahabat-sahabat lainnya memikul amanah yang sama

Dan di sini, ada pula banyak sosok mulia yang tetap tinggal dan setia mendoakan

Dan ada malaikat-malaikat yang mengamini doa indah mereka

 

Jeda

Terima kasih telah temaniku mensyukuri anugerah indah ini

Tujuh minggu ini aku menempa diri

Tujuh minggu ini aku mengenal manusia-manusia yang luar biasa

 

Tujuh minggu ini…

Tujuh minggu untuk selamanya

 

 

Megamendung, 11 Juni 2011

Bersama kenangan di Pelatihan Intensif Pengajar Muda II – Indonesia Mengajar

 

 

Pergi

Untuk hari ini dan selamanya

Aku akan selalu pinjamkan bahu ini

Sebagai tempatmu bersandar

Sebagai tempatmu singgah dari berbagai problema

Untuk meringankan sebagian beban yang ada di dirimu

Untuk hari ini dan selamanya

Telinga ini akan selalu ada

Untuk mendengarkan keluh kesahmu

Untuk menyimak kepingan-kepingan kisah hidupmu

Untuk meringankan sebagian beban yang ada di dirimu

Untuk hari ini dan selamanya

Tangan ini ‘kan siap sedia

Merangkulmu dengan segenap cinta

Agar kau tahu dirimu begitu bermakna

Untuk hari ini dan seterusnya

Aku ingin selalu ada untukmu

Namun…aku sendiri tak yakin

Masihkah esok akan ada untuk kita

Berbagi canda…

Berbagi tawa…

Berbagi cinta…

Untuk hari ini dan seterusnya

Aku ‘kan titipkan salam lewat angin

Aku ‘kan titipkan rindu lewat hujan

Biarkan mereka menyusuri jalan panjang yang memisahkan kita

-Yogyakarta, 6 Agustus 2006-

*nemu puisi ini di blog lama. untuk seorang teman yang (ternyata) tak jadi pergi ;)

Mama

 

Mama…

semoga Allah senantiasa membalas setiap detik yang Mama persembahkan untuk keluarga ini.

Mama…

doa kami hanya doa dari anak-anak biasa,yang terkadang menyakitimu dan tak peka terhadapmu.

Namun semoga doa sederhana ini diamini malaikat dan dibawa terbang ke singgasana-Nya.

Mama…

Kami mencintaimu…

 

Jakarta, 22 Desember 2010

Kesabaran

Kesabaran…

Itulah yang diajarkan bus yang penuh sesak ini

Yang terkadang AC-nya bocor, yang terkadang atapnya pun bocor

Kesabaran…

Itulah yang diajarkan oleh lalu lintas yang padat tak bergerak ini

Lalu lintas yang menunda para pekerja sampai di kantor dan sampai di rumah

Lalu lintas yang menunda berbagai perjumpaan:

Ayah dengan anaknya

Ibu dengan anaknya

Suami dengan istrinya

Seseorang dengan temannya, rekan bisnisnya, dan siapa saja

Lalu lintas yang menunda seseorang bahkan untuk menunaikan kewajiban beribadah

Bertahun-tahun…

Rakyat sudah banyak belajar tentang sabar

Tentang menerima berbagai fasilitas yang alakadarnya

Tentang menerima masalah yang tak juga terpecahkan

Kapankah kiranya para pemimpin akan membayar berjuta kesabaran itu?

Butuh berapa orang gubernur lagi, oh Jakarta?

Hingga Semanggi – Cawang tak perlu ditempuh dalam waktu satu jam

Hingga para pekerja, anak sekolah, dan orang kecil bisa menikmati bahagianya pergi dari suatu tempat ke tempat lain

Bahagianya hidup di ibukota…

Jakarta, 9 Desember 2010

#curhatanakbis

*foto dari Antara